
Menurut saya, penggunaan bahasa gaul dalam filem-filem Indonesia akan menyebabkan Bahasa Indonesia semakin rusak. Saya telah melayari internet dan mendapat
informasi bahawa bahwa bahasa gaul ini berasal dari kaum waria dan anak-anak jalanan. Bahasa gaul juga dikenali sebagai bahasa preman. Namun begitu, sejak Debby Sahertian mengeluarkan kamus bahasa gaul sekitar tahun 1999, bahasa gaul ini telah menjadi trend di kalangan anak-anak muda bangsa ini. Banyak kata-kata ajaib yang bermunculan sejak itu. Apalagi pada saat usia-usia ini anak-anak ingin menunjukkan identitas mereka sebagai remaja yang ingin tampil esklusif, maka terciptalah bahasa gaul ini di manayang bias bisa menjadi bahasa rahasia mereka. Hanya karena hanya mereka sahaja saja yang memahami dan bisa menggunakan bahasa gaul ini.
Hal ini amat membimbangkan banyak orang, terutamanya orang-orang yang mementingkan bahasa. Lama kelamaan, jika bahasa gaul mula dipakai secara berleluasa oleh orang-orang muda, bahasa Indonesia akan menjadi semakin pudar.
Oleh karena itu, sebaiknya, sutradara-sutradara filem Indonesia seharusnya banyak menggunakan Bahasa Indonesia yang baku dalam filem-filem atau karya-karya mereka. Dengan cara ini, bahasa Indonesia masih mampu diselamatkan. Orang Kalayak ramai akan menggunakan bahasa Indonesia yang baku karena pengaruh media massa sangat kuat dalam kalangan remaja dan orang kalayak ramai.

Saya tidak tersadar bahwa bahwa bahasa Idonesian pantas tercampur. Ini juga kelihatannya kasus dengan bahasa hispanik. Saya bisa mengerti mengapa orang yang lebih tua akan gelisah tentang peralihan ini. Itu menarik bagi bahwa anda dapat untuk menemukan ke luar di mana bahasa tercampur mulai.
ReplyDelete