Sunday, February 21, 2010

Chairil Anwar


Dalam banyak-banyak sasterawan Indonesia, saya berasa kagum dengan Chairil Anwar. Saya amat suka dengan puisi-puisi yang ditulisnya terutama sekali puisi "Aku". Berikut merupakan puisi Aku yang ditulis oleh Chairil Anwar pada bulan Maret 1943.

Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Dalam post ini, saya tidak akan menafsir puisi di atas. Saya akan menceritakan sedikit sebanyak tentang kehidupan Chairil Anwar.

Pada minggu yang lalu, Ibu Arti telah meminta saya untuk mencari bibiografi tentang Chairil Anwar. Oleh karena itu, saya mengambil kesempatan itu untuk lebih mengenali penulis yang berbakat ini. Barulah saya sadar bahwa kehidupan Chairil Anwar agak sulit sekali.

Chairil Anwar dilahirkan pada tanggal 26 juli 1922 di Medan. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Ayahnya menikah lagi setelah bercerai dengan ibunya. Lalu, Chairil mengikuti ibunya berpindah ke Jakarta.

Semasa masih tinggal di Medan, Chairil sangat dekat dengan neneknya. Oleh karena itu, kematian neneknya memberi kesan kepedihan yang terhebat terhadap dirinya. Menurut satu halaman web yang saya cari di internet, Chairil telah menggambarkan kedukaan itu dalam satu sajak yang luar biasa pedih:

Nisan

Untuk Nenekanda
Bukan kematianmu benar menusuk kalbu
Keridaanmu menerima segala tiba
tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertahta

Ibu adalah wanita kedua yang dipuja oleh Chairil. Beberapa puisi juga ditulis oleh Chairil untuk menunjukkan kecintaan pada ibunya.

Berdasarkan artikel yang saya baca di internet, dunia kedua sesudah buku bagi Chairil adalah wanita. Ada tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar oleh Chairil. Malah, nama-nama gadis ini masuk dalam puisi-puisi Chairil. Namun, Chairil akhirnya menikahi gadis Karawang, Hapsah namanya.

Walau bagaimanapun, pernikahan itu tidak kekal lama. Hapsah telah meminta cerai saat anak mereka berumur 7 tahun. Mereka bercerai disebabkan kesulitan ekonomi. Tidak lama selepas itu, pada tanggal 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Dia dipercayai meninggal karena sakit TBC kronis dan sipilis.

Ya, umur Chairil memang pendek. Hanya 27 tahun saja. Namun dia tetap meninggalkan banyak sumbangan dalam perkembangan kesusasteraan Indonesia. Puisi dan karyanya yang lain masih hidup dan diminati oleh banyak orang.

No comments:

Post a Comment